Seseorang di Waktu Senja

     
          Ada waktu yang tidak pernah aku lupakan bagaimana rasanya, yaitu waktu saat senja tiba. Langitnya, baunya, suasananya, rasanya, semuanya masih sangat aku hapal. Senja adalah waktu yang paling mengingatkanku padamu. Pada saat senja aku belajar untuk menunggu. Pada saat senja aku belajar bagaimana rasanya untuk bersabar. Dan senja tidak pernah menipuku bagaimana pun keadaannya. Waktu itu kamu selalu hadir dalam senjaku. Karena bagimu, malam tak pernah membiarkanmu bebas mengucapkan selamat tidur padaku. Karena bagiku, siang terlalu sibuk untuk membiarkanmu menggangguku. Entahlah, senja selalu yang paling mengerti kita.

            Ku peluk kakiku sambil berbaring di atas ranjang. Membiarkan angin menggelitik jari-jari kakiku lewat jendela yang sengaja ku buka. Lewat jendela ku lihat langit mulai menghitam. Memudarkan merah bahagianya senja. Tapi, senja tak pernah marah, ia biarkan malam untuk mengambil posisinya di langit. Begitu pun penantian-penantianku di kala senja. Ku biarkan sibuknya malam mengambilnya kembali dalam genggaman. Karena sekali lagi, senja mengajarkanku bagaimana caranya untuk bersabar.

        Hari itu, senja tidak datang seperti biasanya. Dia membawa kesedihan karena langit enggan menampilkan bahagianya senja. Senja hari itu datang bersama hujan dan temannya petir. Rasanya biar para penikmat senja berimajinasi dalam lautan jingga yang kelam. Hari itu senja tidak datang sepertinya biasanya. Dia membawa kesedihan bagi para penikmat senja, atau hanya bagiku? Kala itu senja mengambilmu dariku. Seseorang yang aku tunggu di saat senja. Pergi bersama hujan dan kesedihan-kesedihannya.

          Seseorang di Waktu Senja, maaf karena sudah menungguimu terlalu lama. Tuhan kini membiarkanmu pergi untuk selama-lamanya.



*Untuk seseorang yang selalu aku tunggu pada saat senja. Terima kasih telah menemani senjaku selama yang kamu bisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Seseorang

Ungkap!